Potret Online

 

 

 

Sun12282014

Last update10:26:54 AM GMT

Anak dengan Cerebral Palsy

Oleh: Eliza Noviane Sugianto (Berdomisili di Bandung, Jawa Barat)

Ini adalah kisah ku sebagai anak yang terlahir dengan Cerebral Palsy Spastik. Mungkin Tripelgia, karena tangan kanan dan kedua kaki saya kaku. Hal ini dikarenakan dulu pada saat menjelang kelahiran, ibu saya tidak sadarkan diri. Itu yang menyebabkan saya kekurangan oksigen dalam kandungan dan untuk mencegah hal yang lebih buruk, saya dikeluarkan dengan paksa oleh dokter. Setelah saya lahir, saya tidak dapat menangis.. Pada waktu itu dokter sempat menyuruh kedua orangtua saya meninggalkan saya di rumah sakit selama 10 hari untuk dirawat dalam inkubator. Setelah 10 hari, kondisi saya tidak banyak mengalami perubahan (lunglai, lemas sepert kapas). Mungkin itu yang menyebabkan dokter menyuruh kedua orangtua saya untuk membawa pulang saya (khawatir bila saya meninggal di rumah sakit).

Keadaan saya tidak mengalami perubahan signifikan, hingga saya berusia 4 tahun, hingga orangtua saya membawa saya ke sebuah rumah sakit terkenal di Singapura. Saya dirawat kurang lebih 5 bulan di rumah sakit tersebut. Dokter di sana mengkritik dokter di Indonesia tentang lambatnya penanganan. Harusnya jika bayi lahir tidak menangis, dokter harus membalikkan bayi (dipegang kakinya, dengan posisi kepala di bawah hingga bayi itu menangis). Tetapi setelah 5 bulan dirawat, tidak ada perubahan yang berarti dalam diri saya, bahkan saya cenderung lebih kaku dari biasanya (mungkin pengaruh obat yang disuntikan setiap hari, pagi, siang, dan malam). Akhirnya orangtua  membawa saya pulang dengan sedikit memaksa. Dokter di sana tidak membolehkan saya pulang ke Indonesia ( selama 5 bulan juga, saya tidak boleh keluar rumah sakit sama sekali).

Seminggu setelah saya pulang ke Indonesia, tepatnya di kota Bandung, hampir tiap malam saya mengalami kejang yang sangat luar biasa. Orangtua saya panik dan membawa ke salah satu dokter anak ternama di Bandung. Setelah beberapa kali diberi obat, akhirnya kejang-kejang saya berkurang. tetapi, kekakuan pada tangan dan kaki saya tidak hilang hingga saat ini (meskipun berkurang karena terapi). Pada umur 5 tahun saya masuk Taman Kanak-Kanak dengan keterbatasan saya. Tapi keterbatasan saya tidak mempengaruhi kecerdasan saya. Saya mulai membaca sejak umur 3 tahun dan umur 5 tahun saya sudah bisa mengetik dan mengoperasikan komputer. Pada saat saya masuk SD, saya sempat beberapa kali ditolak mentah-mentah pada beberapa sekolah (itu membuat para guru TK saya pesimis dan kepala sekolah TK saya sempat ingin menyekolahkan saya di salah satu Sekolah Luar Biasa di Jawa Tengah). Ayah saya yang agak pesimis sempat ingin menyetujui rencana itu, tapi ibu saya jelas-jelas menolak rencana tersebut dengan berkata, "Anak ini pintar, bahkan lebih cepat menguasai segala sesuatu dibanding anak normal. “Jika dia dimasukkan SLB saya khawatir dia akan menurun kecerdasannya atau menirukan anak-anak di sana". Ibu saya tidak berhenti mencarikan sekolah untuk saya, sampai akhirnya saya dites di sekolah terkenal di Bandung.

Pada awalnya ada salah satu guru di sekolah itu yang menginginkan saya tidak diterima di sekolah tersebut, dengan membuatkan tes saya lebih susah (yang anak normal usia 7 tahun bahkan tidak dapat mengerjakan tes itu). Tapi, diluar dugaan, saya mampu mengerjakan tes tersebut dengan mudah dan benar semua. Akhirnya saya diterima di sekolah tersebut. Kelas 1 dan 2 SD saya termasuk murid berprestasi dibanding anak lainnya. Hingga kelas 3 SD, saya diajar oleh guru yang tidak menginginkan saya masuk di sekolah tersebut. Guru itu terus menarik lembar jawaban saya dan saya selalu tidak selesai mengerjakan dan  tentu saja nilai saya jelek terus. Akhirnya pada kelas 3 SD juga, orangtua saya memindahkan sekolah saya, daripada saya dapat jelek terus dan tidak naik kelas.

Di sekolah yang baru, yang pendidikannya jauh lebih keras dan disiplin tinggi, saya terus berprestasi. Hingga kelas 4 SD, prestasi saya menurun karena beberapa anak yang sekelas dengan saya selalu mengejek kondisi saya ( jalan kurang lancar dan bicara saya kurang jelas), namun saya berhasil lulus SD dengan baik. tapi hal seperti itu berulang kembali, ketika saya SMP. Saya terus menerus mendapat ejekan dari teman-teman saya. Saya down dan tidak mau masuk sekolah selama 1 bulan. Akhirnya orangtua saya memindahkan sekolah  lagi.  Di SMP baru saya berprestasi lagi hingga lulus SMP. Meskipun di SMP baru, sempat ada orangtua murid yang terang-terangan bicara "eh, dulu kamu mau digugurkan ya? kok kamu sekarang  kayak gini?" Hal itu sempat membuat saya menangis sejadi-jadinya, tapi itu tidak mempengaruhi prestasi saya. Saya pu masih tetap menjalankan terapi-terapi. Sampai akhirnya saya lulus ujian nasional (UN).

Di SMA, saya kembali diterima di sekolah ternama di kota Bandung, tetapi, tetap saja ejekan tidak pernah berhenti terhadap saya. Di SMA, saya bertemu lagi dengan anak yang dulu di SMP lama saya sering mengganggu saya. Bahkan ketika kelas 2 SMA, dia sempat menyuruh temannya untuk menuduh saya mencontek. Tapi saya bersyukur guru-guru tidak mempercayai omongan dia. Di SMA juga, saya dinyatakan termasuk pemilik IQ tertinggi diantara teman-teman saya. Saya akhirnya lulus Ujian Nasional dengan nilai lumayan tinggi. Setelah saya lulus SMA. saya diterima di Universitas ternama di Bandung, di jurusan Sistem Informasi. Alasan saya memilih jurusan tersebut, agar orang-orang  tahu saya mampu dan bukan jurusan yang gampang. Saya saat ini sudah semester 6.

Semoga tulisan ini bisa membuka mata banyak orang terhadap anak-anak dengan cerebral Palsy juga bisa berprestasi dan bahkan bisa lebih baik dari anak-anak biasa lain. Selayaknya kita tidak melecehkan dan mendiskriminasikan mereka.

 

 

 

 

Powered by Analytics for Joomla